Vermikompos, Pupuk Organik Ramah Lingkungan

 

Salam A Ecology sahabat!!

Diakui atau tidak, bumi kita, termasuk Indonesia tentunya, sudah makin tua. Salah satu contohnya adalah kesuburan tanahnya yang makin menurun dari waktu ke waktu. Sehingga produksi hasil pertanian pun tidak optimum lagi, kalau enggan dikatakan rendah.

Solusi yang diaplikasikan untuk mengatasi masalah kesuburan tanah tersebut selama ini, suka atau tidak suka adalah penggunaan pestisida pupuk anorganik atau pupuk kimia. Pupuk buatan pabrik ini harus diakui mampu mendongkrak produksi  hasil pertanian. Produksi tinggi dan memuaskan.

Namun demikian, penggunaan pupuk kimia tersebut, akibat aplikasinya yang tidak terkendali dan berlebihan, menimbulkan dampak yang membahayakan. Muncullah masalah ekologi atau lingkungan. Ditemukanlah residu pestisida yang tinggi di lahan-lahan pertanian. Diketahuilah adanya residu pestisida yang ikut terakumulasi dalam bahan pangan dan kehidupan manusia. Dan kemudian disinyalir juga adanya dampak residu pestisida terhadap ibu hamil dan bayi yang baru lahir.

Untuk mengatasi masalah tersebut, maka pemerintah, para ahli teknologi dan lembaga-lembaga pemerhati lingkungan hidup, mulai mengkampanyekan penggunaan pupuk organik. Dengan tujuan untuk menekan sedemikian rupa penggunaan pupuk anorganik.

Vermikompos

 

Salah satu teknologi pupuk organik yang terkenal saat ini adalah Vermikompos. Apa itu Vermikompos? Vermes berasal dari bahasa latin yang berarti cacing dan vermikomposting adalah pengomposan dengan cacing. Sehingga vemikompos merupakan campuran kotoran cacing tanah (casting) dengan sisa media atau pakan dalam budidaya cacing tanah. 

Sederhananya vermikompos merupakan pupuk organik yang dibuat dengan bantuan cacing. Secara alamiah, proses ini terjadi di alam dan hampir semua jenis cacing tanah bisa digunakan untuk membuat vermikompos. Namun ada beberapa jenis cacing tanah yang paling banyak digunakan saat ini, yaitu Eiseniafoetida (Cacing Tiger) dan Lumbricusrubellus (Cacing Tanah Merah).

Sejumlah penelitian, telah menunjukkan kemampuan cacing tanah dalam mendekomposisi bermacam-macam limbah organik, seperti feses hewan, lumpur yang berasal dari saluran pembuangan air, sisa hasil panen dan limbah pertanian. Bahkan penelitian Yadav et al, 2010, mengatakan bahwa vermikomposting dapat diaplikasikan untuk mengompos feses manusia.

Kelebihan dari vermikompos, adalah lebih mudah, murah, waktu singkat, ramah lingkungan, mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman seperti N, P, K, Ca, Mg, S. Fe, Mn, AI. Na, Cu. Zn, Bo dan Mo, mempunyai kemampuan menahan air 40-60%, memperbaiki struktur tanah, menetralkan pH tanah dan sumber nutrisi bagi mikroba tanah. Sehingga mikroba pengurai bahan organik akan terus berkembang dan menguraikan bahan organik dengan lebih cepat.

Pembuatan Sederhana

Proses pembuatan vermikompos ternyata sangat sederhana. Bahan yang dibutuhkan, yaitu bahan organik seperti jerami padi, kotoran ternak (sapi, babi, kerbau, kambing, domba, ayam, kuda dan isi rumen) dan sampah pasar dan limbah rumah tangga.

Media yang baik untuk pembuatan vermikompos yaitu kelembapan sekitar  50-55 %, Suhu 30-55oC, pH 5,5-8, aerasi (udara). Untuk memperoleh kondisi ini maka media (bahan organik) sebelum digunakan sebagai media atau pakan cacing tanah, difermentasi atau didiamkan terlebih dahulu kurang lebih selama 2 minggu. Jika cacing meninggalkan media, berarti kondisi media belum cocok untuk cacing (Vincensia K, 2018).

Proses pembuatan vermikompos dimulai dari pemberian cacing pada bahan organik tadi. Tidak boleh lupa pada bagian dasar wadah atau tempat pembuatan vermikompos diberi pelepah pisang sebagai tempat cacing bertelur. Proses pengomposan diakhiri setelah bahan menjadi remah dan terdapat butit-butir kecil lonjong yang sebenarnya kotoran cacing. Setelah itu cacing tanah dipisahkan dengan vermikompos. Vermikompos dikeringkan dan siap digunakan. Cacing yang dipanen dapat digunakan lagi untuk proses pengomposan.

Lama proses pengomposan tergantung dari jumlah cacing. Semakin banyak cacing, maka semakin cepat proses pengomposan. Dengan perbandingan bahan organik dan cacing sebesar 1:1, proses komposting selesai dalam waktu 1 hari.



Demikianlah sedikit gambaran mengenai Vermikompos, pupuk organik yang ramah lingkungan. Ya paling tidak dapat mengenal apa itu vermikompos. Semoga bermanfaat.

Salam A Ecology!

Comments

Popular posts from this blog

Rantai Makanan dan Aliran Energi Di Ekosistem

Yuk! Belajar Organisme Air Dan Peranannya Sebagai Bioindikator